Kiat Mengemas Hasil Penelitian Menjadi Buku Teks

  • By admin
  • 12 November, 2013
  • Comments Off on Kiat Mengemas Hasil Penelitian Menjadi Buku Teks

Pendahuluan

Berdasarkan kebijakan yang digariskan DIKTI, hasil kegiatan kecendekiaan para pengajar perguruan tinggi di Indonesia dijuruskan untuk dimuarakan dalam bentuk penerbitan artikel ilmiah, penciptaan teknologi terterapkan, pendaftaran hak paten, dan penulisan buku teks. Dalam kaitannya dengan buku teks, secara tegas dicanangkan agar penulisannya didasarkan pada hasil penelitian pengajar yang bersangkutan sehingga pembahasannya betul-betul membumi pada persoalan yang terdapat di Indonesia. Dengan demikian dalam berkiprah di masyarakatnya, para mahasiswa dan peserta didik Indonesia lainnya nanti akan langsung dapat mendarmabaktikan pengetahuan dan ilmunya pada lingkungannya tanpa perlu pengadaptasian lagi.

Berikut ini akan disajikan pengalaman pribadi dalam (mencoba) mengemas hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan untuk dijadikan buku teks yang dimaksudkan.

Kodrat Buku Teks

Dalam kamus-kamus, buku teks (yang sering disebut juga buku ajar) didefinisikan sebagai buku yang dipakai dalam memelajari atau mendalami suatu subjek pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni sehingga mengandung penyajian asas-asas tentang subjek tersebut, termasuk karya-kaya ilmiah (scientific) dan kepanditan (scholarly, literary) yang terkait dengannya. Oleh karena itu sebuah buku dapat dikatakan merupakan buku teks jika secara utuh memaparkan materi tentang pengetahuan atau ilmu suatu disiplin atau mata ajaran yang terdapat dalam kurikulum. Dengan demikian isinya memang akan sangat sesuai untuk dipakai sebagai buku pegangan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran suatu disiplin ilmu atau mata ajaran terkait.

Sehubungan dengan itu, penyajian sebuah buku teks selalu terstruktur dan berjenjang secara jelas sesuai dengan peringkat pendidikan (kelas, sekolah, tingkat, angkatan, program studi) yang sengaja diperuntukkan saat penyusunannya. Oleh karena itu, untuk memudahkan penggunaannya penerbitan sebuah buku teks (terutama untuk buku teks sekolah) adakalanya dilakukan secara berjilid-jilid selaras dengan jenjang tingkatnya. Pengetahuan atau ilmu yang disajikan dalam sebuah buku teks dibangun secara bertahap melalui pemaparan sejumlah konsep sesuai dengan peta atau pohon konsep keilmuan yang terkait. Dalam menyajikan materinya, segi didaktik dan paedagogi selalu sangat diperhatikan, sehingga buku teks sering dilengkapi dengan indikasi atau penjelasan tentang tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus mata ajarannya seperti dikehendaki kurikulum. Masih dalam kaitan dengan pembelajaran ini, buku teks adakalanya menyertakan pula instrumen evaluasi diri untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik dalam memahami dan menguasai materi yang bersangkutan. Instrumen tersebut umumnya disajikan dalam bentuk tugas, pertanyaan, tes, ulangan, ujian, lembar kerja, atau bentuk-bentuk lainnya lagi. Selain itu sebuah buku teks sering melapirkan glosarium untuk menjelaskan arti istilah-istilah khusus yang dipakainya, dan menyertakan sejumlah bibliografi untuk dibaca lebih lanjut oleh mereka yang ingin lebih mendalami topik-topik tertentu yang diminatinya.

Walaupun tidak dinyatakan secara gamblang, terdapat perbedaan asasi antara sebuah buku teks sekolah dan buku teks perguruan tinggi. Buku teks sekolah umumnya hanya berisi pengetahuan (jumlah keadaan, kenyataan, keterangan, dan asas yang terkumpulkan, diperoleh atau dialami bersama yang pemahanan dan kebenarannya sudah disepakati secara luas), yang umumnya tergunakan tetapi tidak dapat dikembangkan lebih lanjut tanpa usaha khusus. Oleh karena itu materi yang disajikan pada peserta didik sekolah umumnya bersifat final, sudah betul-betul mapan diketahui kebenarannya, dan tidak bersifat kontroversial. Karena corak kedalaman pembelajaran yang diberikannya, buku teks sekolah umumnya mencakup disiplin ilmu (misalnya biologi), atau bahkan kumpulan disiplin ilmu (misalnya ilmu-ilmu pengetahuan alam) bagi siswa kelas-kelas rendah pendidikan dasar, sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah yang diberlakukan.

Pada pihak lain, buku teks perguruan tinggi tidak hanya berisi pengetahuan tetapi juga ilmu (pemahaman perampatan pengetahuan yang tersistematisasi berkat teroperasikannya hukum dan kaidah universal yang diperoleh dan dikaji serta diuji melalui metode ilmiah). Dengan demikian penuntut ilmu yang menggunakan buku teks perguruan tinggi dapat mengembangkan dan memajukan ilmunya melalui kegiatan seperti penelaahan dan penelitian, karena bukunya (terutama yang bersifat lanjutan) memang menuntunnya sampai ke wilayah perbatasan terra incognita ilmu. Sering pula terjadi bahwa materi yang dicakup dalam sebuah buku teks perguruan tinggi sangatlah sempitnya, misalnya hanya tentang ‘pelepasan spora jamur’ yang merupakan kesuper-super-superspesialisan mikologi sesuai dengan tuntutan mata perkuliahan lanjutan yang diberikan di perguruan tinggi.

Karena diinginkan agar mahasiswa yang digembleng berdasarkan isi yang dikandungnya akan dapat terus mutakhir pengetahuan dan ilmunya, dapatlah dimengerti jika penulisan buku teks harus didasarkan pada kemajuan pengembangan ilmu yang umumnya diperoleh melalui telaahan terbitan penelitian mutakhir. Sekalipun demikian upaya untuk menjaga agar buku teks tidak terlalu ketinggalan zaman masih terhambat oleh kendala pemapanan keberterimaan pelbagai pendapat dan teori keilmuan terkait yang terus-menerus berkembang. Oleh karena itu keterlambatan 5–10 tahun pada umumnya dianggap dapat ditoleransi, seperti tersaksikan dari tenggang waktu pengeluaran edisi baru buku-buku teks yang terkenal. Akan tetapi akhir-akhir ini terlihat bahwa jarak waktu penerbitan edisi baru buku teks condong menjadi lebih pendek dibandingkan dengan sebelumnya.

Dari sini dapat pula dipahami mengapa buku teks––yang memang khusus ditulis sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa yang menuntut ilmu pada umumnya tidak dapat dijadikan bahan rujukan untuk keperluan kegiatan penelitian.

Hakikat Penelitian dan Akibatannya

Salah satu dari sekian banyak definisi penelitian adalah penilikan, pemeriksaan, atau percobaan saksama dan mendalam serta bersistem terhadap suatu masalah yang bertujuan untuk mengembangkan dan memajukan ilmu dengan jalan mengungkapkan atau menafsirkan fakta, atau meninjau ulang teori atau hukum yang sudah luas berterima, berdasarkan bukti temuan baru yang berhasil dihimpun dan diungkapkan. Dengan demikian dihasilkan sumbangan berupa pandangan atau kenyataan baru [yang dapat berupa serentetan pencapaian ilmu dan teknologi mulai dari pengalihan teknologi (transfer of technology), penyesuaian (adaptation), pembaruan (innovation), rekacipta (invention), dan pengungkapan (discovery)], yang secara nyata mengubah frontir perbatasan ketidaktahuan sehingga melebarkan peta pengetahuan dan ranah ilmu. Sudah lama menjadi tradisi ilmiah untuk selalu mendaftar, merekam, atau meregistrasi temuan tadi sesudah mendapat pengakuan, persetujuan, pembenaran, atau sertifikasi dari mitra bebestarinya guna disebarluaskan atau didesiminasikan di kalangan sesama ilmuwannya. Karena sejak tahun 1665 sudah diadatkan untuk menyebarluaskan temuan baru tersebut dalam berkala ilmiah, maka pengarsipan hasil penelitian yang dikontribusikan untuk menambah khazanah pengetahuan dan memajukan ilmu tadi menjadi mapan dan terandalkan.

Sekarang jarang ilmuwan yang minatnya melebar untuk bisa tahu dan dapat menjadi pakar semua bidang seperti pernah dinikmati Michelangelo atau Leonardo de Vinci di zamannya dulu, sebab ketidakmungkinan menguasai dan mengikuti serta memutakhirkan perkembangan state-of-the-art disiplin ilmunya. Sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman, dalam mengembangan ilmunya topik yang ditekuni seorang peneliti makin lama memang makin menyempit tetapi sangat mendalamnya sesuai dengan kespesialisannya yang pada gilirannya tergantung pada dorongan lekat diri dan tuntutan kemelitan pribadi serta dukungan kemudahan yang tersedia bagi sang peneliti. Sebagai akibatnya, jika selalu diberkahi keberhasilan maka temuan-temuan ilmiahnya akan dapat menjadi tonggak sejarah yang bermakna bagi kemajuan ilmu yang digelutinya. Setiap publikasinya pasti akan selalu diikuti, diperhatikan, dan diacu orang serta dipakai sebagai penentu laju pacu kemajuan ilmu yang ditekuninya. Jika memang luar biasa besar delta makna kontribusinya, maka pendapat dan teori yang dilontarkannya kemudian dapat dijadikan pengisi atau bahkan inti peta konsep perkembangan ilmu, sehingga akan mendapat tempat yang terhormat untuk dirujuk dalam buku teks atau buku pegangan di kancah internasional.

Seperti disinggung di atas, buku teks memang disusun sejalan dengan percabangan pohon atau alur peta konsep disiplin ilmunya, yang pada gilirannya harus dikembangkan sampai kesemuanya tercernakan oleh mahasiswa yang menuntut ilmu yang bersangkutan. Untuk itu perlu disusun payung-payung penyederhanaan seputar pelbagai teori atau pendapat yang dianggap sebagai tonggak sejarah penting yang tersimpulkan dalam artikel penelitian bermakna. Buku teks yang ideal memang merupakan kumpulan paparan payung-payung penyederhanaan sekumpulan hasil penelitian yang berkaitan, yang secara menyeluruh merupakan suatu keseutuhan yang tersusun dalam suatu alur yang tuntas, runtut, bertahap, dan menjurus. Dengan demikian pembaca buku teks yang disusun berdasarkan sederetan tonggak sejarah itu akan mendapatkan gambaran menyeluruh kodrat dan hakikat serta fitrah ilmu ataupun topik yang dibahasnya. Karena landasan penyusunan buku teks umumnya dilakukan ilmuwan (scientist) dan pandit (scholar) dengan mengikuti logika dan metode ilmiah, rumpang ketidaktahuan ilmu umumnya tidak “disembunyikan” sehingga mahasiswa yang terpanggil akan tergalakkan, terinduksi, dan terangsang untuk dapat ikut mencoba menutupinya dengan jalan melakukan penelitian.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 1990-an DIKTI telah menggulirkan serangkaian program penelitian untuk dilakukan oleh para pengajar perguruan tinggi. Dengan demikian seharusnya sudah bertumpuk publikasi hasil penelitian yang memecahkan pelbagai persoalan tanah air, yang mestinya sudah mencukupi untuk dijadikan sumber materi penulisan buku teks berdasarkan hasil penelitian yang berakar di bumi Indonesia. Tumpukan data dan informasi ilmiah yang sudah tersedia tentunya tidak akan menghasilkan buku teks yang hanya merupakan saduran (atau bahkan jiplakan) dari buku-buku teks yang ditulis ilmuwan luar negeri yang belum tentu sesuai dengan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan itu, seorang peneliti yang berminat menjawab tantangan kebijakan DIKTI untuk menyusun buku teks memang patut bersungguh-sungguh dan secara jujur memertanyakan kesiapannya. Sudah cukupkah temuan, pandangan, teori, simpulan, perampatan yang tergali dari kegiatan penelitian yang dilakukannya sampai terhimpun konsep-konsep untuk menyusun payung-payung penyederhanaan guna mambangun pohon ilmu atau peta konsep yang utuh sebagai pengisi sebuah buku teks? Secara ilmiah, bagaimana kadar keakuratan, kesahihan, dan kemutakhiran data dan informasi yang disediakan hasil penelitiannya untuk dijadikan materi sebuah buku? Tersediakah data dan informasi pendukung yang terkait untuk melakukan interpolasi yang dapat dipertanggungjawabkan? Sejalan dengan itu sudah maksimumkah sumber bahan yang membumi di Indonesia untuk dijadikan dasar materi buku teks seperti dipersyaratan DIKTI? Setelah peserta didik nanti selesai membaca buku yang berhasil disusun, akan bertambah luaskah wawasan mereka untuk mengayakan ranah ‘beyond the fence’ (di luar batas cakupan) disiplin ilmu atau mata ajaran terkait?

Pertanyaan selanjutnya dapat terus dan memang perlu dikembangkan jika diingini menyusun buku teks yang bermakna, berdampak, berpengaruh, berwibawa, autoritatif, langgeng, dan terutama memunyai stempel pribadi yang tak tertirukan. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan menggelitik seperti ini dianggap perlu untuk diberi perhatian khusus, terutama untuk meningkatkan sumbangan ilmiah dan peran kepanditan buku teks yang bakal dihasilkan. Perlu disadari bahwa rata-rata sarjana Indonesia tidak mampu, tidak berani, tidak dilatih, atau tidak dibiasakan untuk meluaskan wawasan kegiatannya dengan jalan ‘mencakup’ atau ‘memasukkan’ hasil penelitian orang lain, memanfaatkan disiplin lain, meminjam dari waktu lain, menyadap dari budaya lain, ataupun mengacu pada pengalaman orang lain yang sudah ada dalam khazanah pustaka mutakhir sesuai dengan kode etik yang berlaku.

Penutup

Apa yang terpetik dari pengalaman pribadi ini serta dari pengalaman menelaah, menyeleksi, mendampingi, dan memantau penulisan buku teks perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian? Ternyata penulisan buku teks tidak bisa dikembangkan dari hanya satu penelitian yang besar sekalipun (seperti disertasi doktor), karena bahan yang terakhir umumnya lebih cocok untuk menyusun sebuah monografi yang tuntas dan mendalam. Karena kekurangan pelamar, banyak usulan penulisan buku teks terpaksa diterima oleh DIKTI sekalipun muatan lokal penelitianya masih kurang sehingga hasilnya belum optimum (apalagi maksimum) seperti diharapkan. Sebagai akibatnya bahan yang disajikan masih sering bersifat interpolasi dengan bahan dari luar, yang memang dimungkinkan untuk bidang-bidang ilmu yang bersifat universal. Keadaan ini diharapkan segera berubah, terutama karena bakal ditingkatkannya dana penelitian yang disediakan DIKTI di tahun-tahun mendatang . . ..

Mien A. Rifai
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
n.a. “Herbarium Bogoriemse” Puslit Biologi LIPI, Jalan Juanda 22, Bogor
(“Tang Lebun”, RT 03/RW 15, Kotabatu, Ciomas, Bogor)
disampaikan pada : LOKAKARYA PENULISAN DAN PENERBITAN BUKU TEKS PERGURUAN TINGGI
AUP, UNAIR Surabaya 21–23 November 2008

Comments are closed.